Sampah, benda yang selalu ingin dijauhkan orang dengan cara dibuang. Namun tidak demikian dengan Soffia Seffen SH (39). Sejak 2007 silam, dia mengelola sampah lalu mendirikan Bank Sampah
hingga dinobatkan sebagai pengabdi lingkungan dengan menerima Kalpataru
2013.
Enam tahun bergelut dalam urusan sampah, Soffia tidak pernah
menyangka akan diundang Kementerian Lingkungan Hidup untuk datang ke
Istana Negara dan menerima penghargaan Kalpataru 2013 dalam rangka
memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Senin (10/6).
Soffia menerima penghargaan bersama 18 orang lainnya yang juga
menerima penghargaan serupa dengan concern berbeda terhadap lingkungan. Penghargaan yang diperolehnya ini bermula September 2007, saat
tamatan Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (UIR) ini memulai
kepeduliannya terhadap lingkungan dengan cara yang sangat sederhana.
Mengumpulkan sampah dan terus konsisten untuk mengajak tetangga dan
masyarakat di sekitar rumahnya untuk mengelola sampah menjadi apapun
yang bisa diolah.
‘’Lalu saya fokus ke sampah anorganik, karena merupakan sampah yang
sangat berbahaya bagi kelestarian dan keberlangsung bumi dan makhluk
hidup di dalamnya,’’ kata Soffia saat berbincang dengan Riau Pos usai
menerima penghargaan dari Presiden melalui telepon selulernya, kemarin.
Soffia masih berada di Jakarta dan baru tiba di Pekanbaru dua hari
lagi. Karena terus fokus dengan apa yang telah dimulainya, ibu dari tiga
anak ini pun terus memanfaatkan kemampuannya sebagai salah seorang
pegawai Pusat Pengelolaan Ekoregion (PPE) Sumatera Kementerian LH di
Pekanbaru.
Dengan modal sendiri dan kegigihan, Soffia mengajak ibu rumah tangga
untuk mengolah sampah menjadi barang ekonomis sebagai kerajinan tangan
yang dapat menghasilkan keuntungan.
Sampah anorganik meliputi logam besi, kaleng, plastik, karet, botol
dan benda yang tidak hancur lainnya jika ditimbun atau dibakar. Karena jika ditimbun, maka akan merusak tanah, demikian pula jika
dibakar akan membuat tanah menjadi tidak bagus dan berdampak pada
pemanasan global yang jika dibiarkan terus-menerus hanya akan merusak
lingkungan.
Menyadari tidak semua orang mau mengumpulkan bekas-bekas plastik atau
sisa botol minuman, Soffia berinisiatif untuk memulai dengan
menyediakan tempat sampah di sekolah-sekolah. Digagaslah Bank Sampah. Para siswa dan guru dapat mengumpulkan sampah anorganik sebagai tabungan.
Lalu setiap kenaikan kelas akan dibuka dan mendapatkan penghasilan
berupa uang. ‘’Saya bayar, untuk kemudian dijadikan kerajinan. Semua
modal sendiri, karena didukung suami dan orangtua serta keluarga, maka
saya terus bertahan untuk mengelola Bank Sampah ini sampai sekarang,’’
paparnya.
Alhasil, saat ini dia sudah melibatkan sekitar 50-an ibu rumah tangga
untuk mengubah sampah-sampah menjadi barang yang layak jual sebagai
kerajinan tangan. Pekanbaru sendiri sudah hampir seratus sekolah yang memiliki Bank Sampah. Serta beberapa daerah di Kabupaten/kota di Riau.
Soffia mengaku ada kepuasan yang didapatnya dengan mengajak
masyarakat terutama ibu rumah tangga untuk mengubah pola pikir bahwa
sampah anorganik akan lebih baik jika dikelola menjadi barang ekonomis
daripada dibuang, dibakar, maupun ditimbun.
Dengan mengubah pola pikir dan tingkah laku atau budaya terhadap
sampah, serta melibatkan sekolah dimana para siswa, generasi mendatang
akan lebih peduli dengan kondisi lingkungan. Karena kalau tidak diawali dari diri sendiri, maka hanya akan merugikan bagi sekitar di kemudian harinya.
‘’Kepuasan. Itu yang saya dapatkan. Apabila masyarakat mau terlibat
untuk mengelola sampah, misalnya orang ingin kerja dapat untung berapa,
saya juga punya penilaian seperti itu. Tapi apabila ada orang yang
bertambah untuk ingin mempelajari, itu adalah kebanggaan saya sendiri,
dan kebanggaan saya juga karena kegiatan ini bisa berjalan dengan
lancar,’’ ucapnya.
‘’Capek, rugi dan lainnya tidak kita pikirkan lagi, karena mengubah
pola pikir masyarakat sehingga mereka dapat mencontoh, itu yang menjadi
tujuan,’’ papar perempuan berjilbab tersebut.
Lewat pengorbanannya, dengan mengeluarkan biaya sendiri menyiapkan
Bank Sampah dan masuk ke sekolah untuk melibatkan langsung siswa dan
guru, dirinya juga sudah melakukan MoU dengan Dinas Pendidikan (Disdik)
Kota Pekanbaru sehingga pada 2013 ini seluruh sekolah negeri di
Pekanbaru untuk seluruh jenjang sudah memiliki Bank Sampah.
Karena rutinitasnya di PPE wilayah Sumatera, Soffia memanfaatkan
momentum bepergian ke seluruh provinsi di Sumatera sebagai pengisi
seminar dan menginspirasi orang mendirikan dan mengembangkan Bank
Sampah.
Alhasil, selama enam tahun bergerilya, seluruh kota besar di Sumatera sudah memiliki Bank Sampah. Dengan bangga Soffia menceritakan wilayah yang sudah memiliki Bank
Sampah hingga kini, seperti Kabupaten Mentawai, Solok, Payakumbuh,
Bukittinggi dan Sawahlunto di Sumatera Barat. Kemudian di Sumatera
Utara, Bank Sampah sudah ada di Sibolga, Binjai, Sidikalang dan Medan.
Di Provinsi Sumatera Selatan sudah ada di Palembang, Martapura, Lubuk
Linggau. Kemudian ada juga di Kota Bengkulu dan Bandar Lampung.
‘’Karena sudah semakin meluas, sudah komitmen dengan pengelolaan
sampah demi lingkungan, suami pun tidak ingin membiarkan saya sendiri.
Maka ia (Suratin, red) juga berhenti kerja dan ikut mengelola sampah
bersama,’’ ceritanya.
Merelakan pekerjaan sebagai salah seorang pegawai swasta di
Pekanbaru, orangtua dari Sherin (14), Shafira (11) dan M Fatir Satria
(2,5) ini pun terus mengajak seluruh masyarakat untuk menyadari dan
memahami betapa berbahayanya sampah anorganik. Ia pun mendampingi sang istri dan Wali Kota Pekanbaru Firdaus ST MT
saat menerima penghargaan langsung dari Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono di Istana Negara pukul 10.00 WIB, Senin (10/6).
‘’Mudah-mudahan pola pikir masyarakat dan pemerintah di Riau bisa
termotivasi dari hal yang sangat sederhana. Sampah, ya, sampah,’’
ujarnya (Riau post).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar