Rabu, 11 September 2013

Mudik, Toilet Bisa Jadi Daya Tarik

Para pebisnis rupanya sangat memahami kebutuhan pemudik, khususnya soal buang air. Baik buang air besar maupun buang air kecil. Makanya, dalam menjajakan dagangannya, toilet kini menjadi ikon yang ikut dijual.
 
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, swalayan seperti Indomaret dan Alfamart pun membuka toilet mereka untuk umum. Padahal, biasanya toilet itu hanya khusus bagi karyawan mereka. Menurut salah satu penjaga swalayan, cara ini dilakukan sesuai kebutuhan para pemudik sekaligus menjadi daya tarik bagi pemudik untuk berbelanja ke gerai mereka.

Memang, jumlah pemudik tidaklah seimbang dengan toilet umum yang tersedia bagi publik. Makanya, pemudik pun memilih-milih toilet yang ‘agak’ representatif ketika mereka ingin berhenti di jalan.

Di luar para pebisnis, warga pun menjadikan toilet untuk para pemudik ini sebagai ajang bisnis baru. Di sepanjang pantai utara Jawa (Pantura), toilet umum dadakan ini bermunculan. Dari sisi fisik, sebenarnya toilet itu bukan toilet baru tapi toilet rumah yang dibuka untuk umum. Memang ada satu atau dua yang merupakan toilet baru.

Warga memanfaatkan ‘keterpaksaan’ para pemudik yang sulit mencari toilet umum untuk singgah di toilet mereka. Tentu tidak gratis. Mereka telah menetapkan tarif. Sekali masuk rata-rata Rp 2.000. Ada pula yang membedakan berdasarkan aktivitas yang dilakukan di dalam toilet. Misalnya, kencing Rp 2.000, buang air besar/mandi Rp 3.000.

Seorang warga pemilik toilet menyatakan, bisnis dadakan ini menguntungkan. Namun untungnya kecil. Soalnya saingannya juga banyak. Lagi pula orang juga pilih-pilih. “Yah iseng ajalah, sekalian bantu mereka yang lagi di jalan lah,” katanya.

Munculnya toilet dadakan ini bak jamur di musim hujan. Pasca liburan besar lewat, toilet dadakan itu pun menghilang. “Cukup membantu sih. Coba kalau fasilitas toilet umum ini diperbanyak di tempat-tempat istirahat dan dijaga kebersihannya, pasti kita tambah senang,” kata seorang ibu yang mampir di sebuah gerai.

Sementara itu, masih sangat sedikit Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) memiliki toilet yang representatif dalam jumlah besar. Satu-satunya yang sangat bagus dimiliki oleh SPBU di Tegal, Jawa Tengah. SPBU ini memiliki 67 toilet bersih. Dan faktanya, toilet ini sangat dipelihara. Pengunjung hanya diminta sumbangan kebersihan Rp 1.000 sekali masuk. Toilet bersih SPBU ini meraih penghargaan MURI.

Bagaimana dengan pemerintah daerah? Tampaknya belum banyak yang tertarik untuk memberikan layanan ini kepada masyarakat. Apa yang disediakan masih ala kadarnya. Belum memprioritaskannya secara khusus (Sanitasi.or.id).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar