Di mana sebagian sampah Indonesia bermuara? Di laut. Demikian hasil
bidikan fotografer Zak Noyle saat ia melakukan perjalanan wisata ke
beberapa pulau di Indonesia.
"Gelombang laut Jawa yang selama ini selalu dikenal sebagai murni dan
enak buat berseluncur, kini penuh sampah menjijikkan dan rongsokan,"
katanya, yang foto-fotonya dimuat di situs Huffington Post, Rabu
(14/8/2013).
Noyle dalam fotonya yang artistik mengambil gambar surfer Dede
Surinaya di teluk terpencil ketika ia kemudian menyadari lautan sampah
mengepung mereka.
"Itu gila. Aku terus melihat bungkus-bungkus mi instan mengambang di
sampingku," kata Noyle pada GrindTV. "Sangat menjijikkan untuk berada di
sana, aku terus berpikir aku akan menemukan mayat manusia juga pada
akhirnya." sambungnya.
Selain plastik, juga gelas minuman, putung rokok, bungkus rokok,
benda besar seperti batang pohon juga terombang-ambing dalam gelombang.
Indonesia, tulis Huffington Post, adalah negara yang terdiri atas
lebih dari 17.000 pulau namun bermasalah dengan sampah yang mencemari
perairan. Di negeri ini kata mereka, sangat sedikit infrastruktur
pengolahan sampah. Warga juga terbiasa membuang sampah di sembarang
tempat, termasuk di aliran sungai yang pada akhirnya bermuara ke laut.
Pilihan lainnya adalah membakar sampah mereka. Membakar sampah
menciptakan berpontensi kerusakan lingkungan juga. Menurut Global
Alliance for Incinerator Alternatives, produk sampingan dari limbah yang
dibakar menghasilkan racun yang terekspos ke udara, air, dan tanah.
Pada gilirannya, racun akan masuk dalam rantai pasokan makanan.
Anna Cummins, salah satu pendiri 5 Gyres, lembaga non-profit yang
berlayar keliling dunia untuk meneliti pencemaran plastik, kepada The
Huffington Post menyatakan kurangnya kesadaran tidak selalu harus
disalahkan.
"Kami bertemu banyak orang yang ingin melakukan hal yang benar,
tetapi mereka terkendala sarana. Akhirnya bau plastik terbakar muncul di
sana-sini. Keindahan alam yang luar biasa di Bali biasa berpadu dengan
polusi udara yang memilukan," katanya.
Tidak peduli siapa yang harus disalahkan, efek dirasakan oleh mereka
yang tinggal atau berkunjung ke Indonesia. Mark Lukach, seorang penulis
untuk situs web surfing Inersia, menyatakan hal yang sama saat
mengunjungi pulau Lombok, pulau yang diimpikannya untuk dikunjungi sejak
dulu.
"Fantasi masa kecil saya serasa hancur. Saya tidak bisa percaya.
Sampah ada di mana-mana. Di sini, kita seperti benar-benar dimanjakan
oleh sampah," lontarnya dengan nada mengejek (sanitasi.or.id).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar