Sampah
(refuse) adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak
disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan
yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan biologis
(karena human waste tidak termasuk didalamnya) dan umumnya
bersifat padat (Azwar, 1990). Sumber sampah bisa bermacam-macam, diantaranya
adalah : dari rumah tangga, pasar, warung, kantor, bangunan umum, industri, dan
jalan. Perkembangan dan pertumbuhan penduduk yang pesat di daerah perkotaan
mengakibatkan daerah pemukiman semakin luas dan padat. Peningkatan aktivitas
manusia, lebih lanjut menyebabkan bertambahnya sampah. Faktor yang mempengaruhi
jumlah sampah selain aktivitas penduduk antara lain adalah : jumlah atau
kepadatan penduduk, sistem pengelolaan sampah, keadaan geografi, musim dan
waktu, kebiasaan penduduk, teknologi serta tingkat sosial ekonomi (Depkes RI.,
1987).
Pengolahan sampah garbage (organik) secara biologis dan berlangsung
dalam suasana aerobic dan anaerobic. Dekomposisi sampah dengan bantuan bakteri,
diperoleh kompos atau humus. Dekomposisi anaerobic berjalan sangat lambat dan
menimbulkan bau, tetapi dekomposisi aerobic berjalan relative cepat dari
dekomposisi anaerobic dan kurang menimbulkan bau.
Berdasarkan komposisi kimianya, maka sampah dibagi menjadi
sampah organik dan sampah anorganik. Penelitian mengenai sampah padat di
Indonesia menunjukkan bahwa 80% merupakan sampah organik, dan diperkirakan 78%
dari sampah tersebut dapat digunakan kembali. Menurut Murtadho dan Said (1987),
sampah organik di bedakan menjadi sampah organik yang mudah membusuk (misal: sisa
makanan, sampah sayuran dan kulit buah) dan s ampah organic yang tidak mudah
membusuk (misal : plastik dan kertas). Kegiatan atau aktivitas pembuangan
sampah merupakan kegiatan yang tanpa akhir. Oleh karena itu diperlukan system pengelolaan
sampah yang baik. Sementara itu, penanganan sampah perkotaan mengalami
kesulitan dalam hal pengumpulan sampah dan upaya mendapatkan tempat atau lahan
yang benar-benar aman (Soeryani et al, 1997). Maka pengelolaan sampah
dapat dilakukan secara preventive, yaitu memanfaatkan sampah salah
satunya seperti usaha pengomposan (Damanhuri, 1988).
- Pengertian Kompos
Kompos merupakan hasil perombakan bahan organik oleh mikrobia
dengan hasil akhir berupa kompos yang memiliki nisbah C/N yang rendah. Bahan
yang ideal untuk dikomposkan memiliki nisbah C/N sekitar 30, sedangkan kompos
yang dihasilkan memiliki nisbah C/N < 20. Bahan organik yang memiliki nisbah
C/N jauh lebih tinggi di atas 30 akan terombak dalam waktu yang lama,
sebaliknya jika nisbah tersebut terlalu rendah akan terjadi kehilangan N karena
menguap selama proses perombakan berlangsung. Kompos yang dihasilkan dengan
fermentasi menggunakan teknologi mikrobia efektif dikenal dengan nama bokashi.
Dengan cara ini proses pembuatan kompos dapat berlangsung lebih singkat
dibandingkan cara konvensional.
Pengomposan
pada dasarnya merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikrobia agar mampu
mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Yang dimaksud mikrobia disini
bakteri, fungi dan jasad renik lainnya. Bahan organik disini merupakan bahan
untuk baku kompos ialah jerami, sampah kota, limbah pertanian, kotoran hewan/
ternak dan sebagainya. Cara pembuatan kompos bermacam‐macam tergantung: keadaan tempat pembuatan, buaday orang, mutu
yang diinginkan, jumlah kompos yang dibutuhkan, macam bahan yang tersedia dan
selera si pembuat.
Perlu diperhatikan dalam proses
pengomposan ialah kelembaban timbunan bahan kompos. Kegiatan dan kehidupan
mikrobia sangat dipengaruhi oleh kelembaban yang cukup, tidak terlalu kering
maupun basah atau tergenang. Aerasi timbunan. Aerasi berhubungan erat dengan
kelengasan. Apabila terlalu anaerob mikrobia yang hidup hanya mikrobia anaerob
saja, mikrobia aerob mati atau terhambat pertumbuhannya. Sedangkan bila terlalu
aerob udara bebas masuk ke dalam timbunan bahan yang dikomposkan umumnya
menyebabkan hilangnya nitrogen relatif banyak karena menguap berupa NH3. Temperatur
harus dijaga tidak terlampau tinggi (maksimum 60 0C). Selama pengomposan selalu
timbul panas sehingga bahan organik yang dikomposkan temparaturnya naik; bahkan
sering temperatur mencapai 60 0C. Pada temperatur tersebut mikrobia mati atau
sedikit sekali yang hidup. Untuk menurunkan temperatur umumnya dilakukan
pembalikan timbunan bakal kompos. Proses pengomposan kebanyakan menghasilkan
asam‐asam organik, sehingga menyebabkan pH turun. Pembalikan timbunan
mempunyai dampak netralisasi kemasaman.
Netralisasi kemasaman sering
dilakukan dengan menambah bahan pengapuran misalnya kapur, dolomit atau abu.
Pemberian abu tidak hanya menetralisasi tetapi juga menambah hara Ca, K dan Mg
dalam kompos yang dibuat. Kadang‐kadang untuk
mempercepat dan meningkatkan kualitas kompos, timbunan diberi pupuk yang
mengandung hara terutama P. Perkembangan mikrobia yang cepat memerlukan hara
lain termasuk P. Sebetulnya P disediakan untuk mikrobia sehingga
perkembangannya dan kegiatannya menjadi lebih cepat. Pemberian hara ini juga
meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan karena kadar P dalam kompos lebih
tinggi dari biasa, karena residu P sukar tercuci dan tidak menguap.
- Manfaat Kompos
Pada dasarnya kompos dapat meningkatkan
kesuburan kimia dan fiisik tanah yang selanjutnya akan meningkatkan produksi
tanaman. Pada tanaman hortikultura (buah‐buahan, tanaman hias,
dan sayuran) atau tanaman yang sifatnya perishable ini hampir tidak mungkin
ditanam tanpa kompos. Demikian juga di bidang perkebunan, penggunaan kompos
terbukti dapat meningkatkan produksi tanaman. Di bidang kehutanan, tanaman akan
tumbuh lebih baik dengan kompos. Sementara itu, pada perikanan, umur
pemeliharaan ikan berkurang dan pada tambak, umur pemeliharaan 7 bulan menjadi
5‐6 bulan.
Kompos membuat rasa buah‐buahan dan sayuran lebih enak, lebih harum dan lebih masif. Hal
inilah yang mendorong perkembangan tanaman organik, selain lebih sehat dan aman
karena tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimia rasanya lebih baik, lebih
getas, dan harum. Penggunaan kompos sebagai pupuk organik saja akan
menghasilkan produktivitas yang terbatas. Penggunaan pupuk buatan saja (urea,
SP, MOP, NPK) juga akan memberikan produktivitas yang terbatas. Namun, jika
keduanya digunakan saling melengkapi, akan terjadi sinergi positif.
Produktivitas jauh lebih tinggi dari pada penggunaan jenis pupuk tersebut
secara masing‐masing. Selain itu, air
lindi yang dianggap mencemarkan sumur di lingkungan TPA dapat dijadikan pupuk
cair atau diolah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke saluran umum. Keuntungan
lainnya dengan dihilangkannya TPA (tempat pembuangan akhir) dan diganti dengan
TPK (tempat pengolahan kompos) alias pabrik kompos, lahan untuk sampah ini
tidak berpindah‐pindah, cukup satu tempat untuk kegiatan
yang berkesinambungan.
Bagaimana Kompos Terjadi? Sampah organik
secara alami akan mengalami peruraian oleh berbagai jenis mikroba, binatang
yang hidup di tanah, enzim dan jamur. Proses peruraian ini memerlukan kondisi
tertentu, yaitu suhu, udara dan kelembaban. Makin cocok kondisinya, makin cepat
pembentukan kompos, dalam 4 – 6 minggu sudah jadi. Apabila sampah organik
ditimbun saja, baru berbulan‐bulan kemudian menjadi
kompos. Dalam proses pengomposan akan timbul panas krn aktivitas mikroba. Ini
pertanda mikroba mengunyah bahan organik dan merubahnya menjadi kompos. Suhu
optimal untk pengomposan dan harus dipertahankan adalah 45‐65C.Jika terlalu panas harus dibolak‐balik,
setidak‐tidaknya setiap 7 hari.
- Pengelolaan Sampah Dengan Membuatnya Menjadi Kompos
Salah satu dari pola hidup hijau yang dapat kita laksanakan adalah
mengelola sampah organik rumah tangga, dengan membuatnya menjadi kompos. Kompos
adalah pupuk yang dibuat dari sampah organik. Pembuatannya tidak terlalu rumit,
tidak memerlukan tempat luas dan tidak memerlukan banyak peralatan dan biaya.
Hanya memerlukan persiapan pendahuluan, sesudah itu kalau sudah rutin, tidak
merepotkan bahkan selain mengurangi masalah pembuangan sampah, kompos yang
dihasilkan dapat dimanfaatkan sendiri, tidak perlu membeli.
1. Pilahkan sampah organik (
sampah dapur dan halaman ) dan sampah non organik, komposisi terbesar dari
sampah rumah tangga sekitar 70% sebenarnya adalah sampah organik dan ini bisa
ditahan di rumah, dan diolah menjadi kompos. Jenis sampah organik yang bisa
diolah menjadi kompos itu adalah sampah sayur baru sisa sayur basi, tapi ini
harus dicuci dulu, peras, lalu buang airnya sisa nasi sisa ikan, ayam, kulit
telur sampah buah ( anggur, kulit jeruk, apel dll ). Dalam keadaan terpotong2.
tidak termasuk kulit buah yang keras seperti kulit salak.
2. Sampah organik yang tidak
bisa diolah : protein seperti daging, ikan, udang, juga lemak, santan, susu (karena
mengundang lalat sehingga tumbuh belatung ) biji-biji yang utuh atau keras
seperti biji salak, asam, lengkeng, alpukat dan sejenisnya. Buah utuh yang
tidak dimakan karena busuk dan berair seperti pepaya, melon, jeruk, anggur.
Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah, zat makanan yang
diperlukan tumbuhan akan tersedia. Mikroba yang ada dalam kompos akan membantu
penyerapan zat makanan yang dibutuhkan tanaman. Tanah akan menjadi lebih
gembur. Tanaman yang dipupuk dengan kompos akan tumbuh lebih baik. Pengomposan
merupakan salah satu alternatif pengolahan limbah padat organik (organik solid waste) yang dapat
diterapkan di Indonesia, mengingat bahan baku terutama sampah perkotaan (municipal waste) tersedia berlimpah, dan
teknologi tepat guna untuk proses pengomposan pun telah cukup dikuasai.
Dari sisi kepentingan lingkungan, pengomposan dapat mengurangi
volume sampah perkotaan yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), karena
sebagian di antaranya khususnya sampah padat organik dimanfaatkan‐ulang dan diolah menjadi kompos. Dari sisi ekonomi, pengomposan
sampah padat organik mengan‐dung arti, bahwa barang yang
semula tidak memiliki nilai ekonomis dan bahkan memerlukan biaya yang cukup
mahal untuk menangani‐nya serta akhir‐akhir ini sering menimbulkan masalah sosial, ternyata dapat diubah
menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomis cukup menjanjikan.
- Spesifikasi Kompos
A. Kandungan Hara
Kompos yang baik mengandung unsur hara
makro Nitrogen > 1,5 % , P2O5 (Phosphat) > 1 % dan K20 (Kalium ) > 1,5
%, disamping unsur mikro lainnya. C/N ratio antara 15‐20 , diatas atau dibawah itu kurang baik. Untuk kepentingan
bisnis, pupuk kompos yang dihasilkan harus mempunyai kualitas yang ajek dan
supply yang berkesinambungan.
Pupuk kompos untuk tanaman organik, jika unsur haranya kurang
dapat ditambah dengan bahan organik lainnya. Nitrogen dapat ditambahkan urine
ternak, mikroba pengikat Nitrogen, pupuk organik yang berasal dari hewani
seperti ikan, darah, dll. Phosphat dapat ditambahkan dari pupuk guano atau rock
phosphat, dapat juga dicampurkan dengan mikroba pelepas phosphat. Kalium dapat
ditambahkan dari arang/abu batok kelapa/kelapa sawit, abu bekas incenerator,
dan lain-lain.
Pupuk kompos yang tidak diperuntukkan
bagi tanaman organik, selain dari campuran di atas dapat pula diberikan
campuran dengan pupuk buatan. Jadi, pupuk seperti ini hanya dipergunakan untuk
tanaman nonorganik. Karena bahan baku sampah tidak tetap, diperlukan campuran
dengan bahan lain agar kualitasnya terjaga. Quality control harus diterapkan di
sini, sehingga orang yang membeli benar‐benar puas.
B. Jenis kompos
Produksi kompos dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok :
1. Kompos murni. Pupuk ini ditujukan untuk lahan tanaman organik,
namun juga dapat digunakan untuk lahan pertanian nonorganik.
2. Kompos plus mikroba (pengikat N dan pelepas P). Pupuk yang
telah diperkaya ini juga diperuntukkan untuk lahan pertanian organik, namun
juga dapat digunakan untuk lahan pertanian nonorganik (biasa).
3. Kompos plus pupuk buatan. Pupuk ini hanya dapat digunakan untuk
lahan pertanian non organi.
Kompos apabila dilihat dari proses
pembuatannya dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu : Kompos yang diproses secara
alami, dan Kompos yang diproses dengan campur tangan manusia. Yang dimaksud
dengan pembuatan kompos secara alami adalah pembuatan kompos yang dalam proses
pembuatannya berjalan dengan sendirinya, dengan sedikit atau tanpa campur
tangan manusia. Manusia hanya membantu mengumpulkan bahan, menyusun bahan,
untuk selanjutnya proses composting / pengomposan berjalan dengan sendirinya.
Kompos yang dibuat secara alami memerlukan waktu pembuatan yang lama, yaitu
mencapai waktu 3 – 4 bulan bahkan ada yang mencapai 6 bulan dan lebih. Yang
dimaksud dengan pembuatan kompos dengan campur tangan manusia adalah pembuatan
kompos yang sejak dari penyiapan bahan (pengadaan bahan dan pemilihan bahan),
perlakuan terhadap bahan, pencampuran bahan, pengaturan temperatur, pengaturan
kelembaban dan pengaturan konsentrasi oksigen, semua dilakukan dibawah
pengawasan manusia.
Proses pembuatan kompos yang dibuat
dengan campur tangan manusia biasanya dibantu dengan penambahan bio‐aktivator pengurai bahan baku kompos. Aktivator pembuatan kompos
terdapat bermacam‐macam merk dan produk, tetapi yang
paling penting dalam menentukan aktivator ini adalah bukan merk aktivatornya,
akan tetapi apa yang terkandung didalam aktivator tersebut, berapa lama
aktivator tersebut telah diuji cobakan, apakah ada pengaruh dari unsur
aktivator tersebut terhadap manusia, terhadap ternak, terhadap tumbuh‐tumbuhan maupun pengaruh terhadap organisme yang ada di dalam
tanah atau dengan kata lain pengaruh terhadap lingkungan hidup disamping itu
juga harus dilihat hasil kompos seperti apa yang diperoleh.
Tujuan dari pembuatan kompos yang diatur
secara cermat seperti sudah disinggung diatas adalah untuk mendapatkan hasil
akhir kompos jadi yang memiliki standar kualitas tertentu. Diantaranya adalah
memiliki nilai C/N ratio antara 10 – 12. Kelebihan dari cara pembuatan kompos
dengan campur tangan manusia dan menggunakan bahan aktivator adalah proses
pembuatan kompos dapat dipercepat menjadi 2 – 4 minggu.
- Metode Pembuatan Kompos
Terdapat beberapa metoda pembuatan kompos yang umum dilakukan,
yaitu
1. Wind Row system
2. Aerated Static Pile
3. In Vessel
Ketiga sistem ini telah banyak dioperasionalkan secara luas. Dari ke
tiga sistim ini mana yang dapat menghasilkan kompos yang terbaik tidaklah
penting, karena masing‐masing sistim mempunyai kelebihan dan
kekurangannya masing‐masing.
Sistem Windrow
Windrow sistim adalah proses pembuatan
kompos yang paling sederhana dan paling murah. Bahan baku kompos ditumpuk
memanjang , tinggi tumpukan 0.6 sampai 1 meter, lebar 2‐5 meter. Sementara itu panjangnya dapat mencapai 40 – 50 meter.
Sistim ini memanfaatkan sirkulasi udara secara alami. Optimalisasi lebar,
tinggi dan panjang nya tumpukan sangat dipengaruhi oleh keadaan bahan baku,
kelembaban, ruang pori, dan sirkulasi udara untuk mencapai bagian tengah
tumpukan bahan baku. Idealnya adalah pada tumpukan bahan baku ini harus dapat
melepaskan panas, untuk mengimbangi pengeluaran panas yang ditimbulkan sebagai
hasil proses dekomposisi bahan organik oleh mikroba. Windrow sistim ini
merupakan sistim proses komposting yang baik yang telah berhasil dilakukan di
banyak tempat untuk memproses pupuk kandang, sampah kebun, lumpur selokan,
sampah kota dll. Untuk mengatur temperatur, kelembaban dan oksigen, pada
windrow sistim ini, maka dilakukan proses pembalikan secara periodik Inilah
secara prinsip yang membedakannya dari sistim pembuatan kompos yang lain.
Kelemahan dari sistim Windrow ini adalah memerlukan areal lahan yang cukup
luas.
Sistem Aerated Static Pile
Sistim pembuatan kompos lainnya yang
lebih maju adalah Aerated Static Pile. Secara prinsip proses komposting ini
hampir sama, dengan windrow sistim, tetapi dalam sistim ini dipasang pipa yang
dilubangi untuk mengalirkan udara. Udara ditekan memakai blower. Karena ada
sirkulasi udara, maka tumpukan bahan baku yang sedang diproses dapat lebih
tinggi dari 1 meter. Proses itu sendiri diatur dengan pengaliran oksigen.
Apabila temperatur terlalu tinggi, aliran oksigen dihentikan, sementara apabila
temperatur turun aliran oksigen ditambah. Karena tidak ada proses pembalikan,
maka bahan baku kompos harus dibuat sedemikian rupa homogen sejak awal. Dalam
pencampuran harus terdapat rongga udara yang cukup. Bahan‐bahan baku yang terlalu besar dan panjang harus dipotong‐potong mencapai ukuran 4 – 10 cm.
Sistem In Vessel
Sistim yang ke tiga adalah sistim In Vessel Composting. Dalam
sistim ini dapat mempergunakan kontainer berupa apa saja, dapat silo atau parit
memanjang. Karena sistim ini dibatasi oleh struktur kontainer, sistim ini baik
digunakan untuk mengurangi pengaruh bau yang tidak sedap seperti bau sampah
kota. Sistim in vessel juga mempergunakan pengaturan udara sama seperti sistim
Aerated Static Pile. Sistim ini memiliki pintu pemasukan bahan kompos dan pintu
pengeluaran kompos jadi yang berbeda.
2.6 Standarisasi Pembuatan Kompos
Dengan mengetahui bahwa kualitas kompos sangat dipengaruhi oleh
proses pengolahan, sedangkan proses pengolahan kompos sendiri sangat
dipengaruhi oleh kelembaban dan perbandingan C dan N bahan baku, maka untuk menentukan
standarisasi kompos adalah dengan membuat standarisasi proses pembuatan kompos
serta standarisasi bahan baku kompos, sehingga diperoleh kompos yang memiliki
standar tertentu. Setelah standar campuran bahan baku kompos dapat dipenuhi
yaitu kelembaban ideal 50 – 60 persen dan mempunyai perbandingan C / N bahan
baku 30 : 1, masih terdapat hal lain yang harus sangat diperhatikan selama
proses pembuatan kompos itu berlangsung, yaitu harus dilakukan pengawasan
terhadap temperature, kelembaban, odor atau aroma, dan pH.
Pengamatan Temperatur
Temperatur adalah salah satu indikator kunci di dalam pembuatan
kompos.
1.
Apakah panasnya naik ?
2.
Sampai temperatur berapa
panas yang dapat dicapai ?
3.
Dalam berapa lama panas
tersebut dapat dicapai ?
4.
Berapa lama panas tersebut
dapat berlangsung ?
5.
Apa arti dari keadaan‐keadaan tersebut ?
6. Campuran bahan‐bahan seperti apa yang dapat
mempengaruhi profil temperatur ?
Panas ditimbulkan sebagai suatu hasil sampingan proses yang
dilakukan oleh mikroba untuk mengurai bahan organik. Temperatur ini dapat
digunakan untuk mengukur seberapa baik sistim pengomposan ini bekerja,
disamping itu juga dapat diketahui sejauh mana dekomposisi telah berjalan.
Sebagai ilustrasi, jika kompos naik sampai temperatur 40°C – 50°C, maka dapat disimpulkan
bahwa campuran bahan baku kompos cukup mengandung bahan Nitrogen dan Carbon dan
cukup mengandung air (kelembabannya cukup) untuk menunjang pertumbuhan
microorganisme. Pengamatan temperatur harus dilakukan dengan menggunakan alat
uji temperatur yang dapat mencapai jauh ke dalam tumpukan kompos. Tunggu sampai
beberapa saat sampai temperatur stabil.
Kemudian lakukan lagi di tempat yang
berbeda. Lakukanlah pengamatan tersebut di beberapa lokasi, termasuk pada
berbagai kedalaman dari tumpukan kompos. Kompos dapat memiliki kantong‐kantong yang lebih panas dan ada kantong‐kantong yang dingin. Semuanya sangat bergantung kepada kandungan
uap air (kelembaban) dan komposisi kimia bahan baku kompos. Maka akan diperoleh
peta gradient temperatur. Dengan menggambarkan grafik temperatur dan lokasi‐lokasinya sejalan dengan bertambahnya waktu, maka dapat
dijelaskan:
1. Sudah berapa jauh proses
dekomposisi berjalan
2. Seberapa baik komposisi
campuran bahan baku tersebut
3. Seberapa rata campuran tersebut dan dibagian mana campuran tidak
rata
4. Dibagian mana sirkulasi udara berjalan normal dan dibagian mana
kurang normal.
Dari informasi diatas, maka dapat
diambil keputusan langkah‐langkah apa yang harus dilakukan untuk
mencapai hasil akhir dan memperoleh kompos dengan kualitas yang diinginkan.
Pada proses komposting yang baik, maka temperatur 40°C – 50 0C dapat dicapai
dalam 2 – 3 hari. Kemudian dalam beberapa hari berikutnya temperatur akan
meningkat sampai bahan baku yang didekomposisi oleh mikroorganisme habis. Dari
situ barulah temperatur akan turun.
Dari beberapa kali proses pembuatan
kompos dengan sistim Windrow, dengan memakai campuran bahan baku kompos terdiri
dari kotoran sapi, kotoran ayam, kotoran kambing, dedak dan jerami, perubahan
temperatur mencapai 40°C – 50 °C dapat dicapai dalam waktu 3 (tiga) hari. Oleh
karena itu pembalikan kompos dilakukan pada hari ke 4 (empat). Setelah
pembalikan pertama temperatur akan turun, lalu naik lagi sampai mencapai 55°C –
60°C pada hari ke 6. Oleh karena itu dilakukan lagi pembalikan ke dua pada hari
ke 6 (enam) atau 3 hari setelah pembalikan pertama, setelah pembalikkan
temperatur akan turun dan naik lagi sampai 55°C – 60°C pada hari ke 9
(sembilan). Pada hari ke 9 (sembilan) ini atau 3 hari setalah pembalikkan ke
dua dilakukan lagi pembalikan ke 3 (tiga). Apabila komposisi campuran bahan
baku tepat, temperatur akan stabil sampai hari ke 12 (dua belas) dan
seterusnya, untuk kemudian turun dan stabil pada temperatur tertentu. Pada hari
ke 14 tumpukan kompos dapat mulai dibuka untuk didinginkan dan kemudian selanjutnya
dilakukan penyaringan dan pengepakan.
Pengamatan Kelembaban
Pembuatan kompos akan berlangsung dengan baik pada satu keadaan
campuran bahan baku kompos yang memiliki kadar uap air antara 40 – 60 persen
dari beratnya. Pada keadaan level uap air yang lebih rendah, aktivitas
mikroorganisme akan terhambat atau berhenti sama sekali. Pada keadaan level
kelembaban yang lebih tinggi, maka prosesnya kemungkinan akan anerobik, yang
akan menyebabkan timbulnya bau busuk. Ketika bahan baku kompos dipilih untuk
kemudian dicampur, kadar uap air dapat diukur atau diperkirakan. Setelah proses
pembuatan kompos berlangsung, pengukuran kelembaban tidak perlu diulangi,
tetapi dapat langsung diamati tingkat kecukupan kandungan uap air tersebut.
Apabila proses pembuatan kompos sedang berjalan, lalu kemudian muncul bau
busuk, sudah dapat dipastikan kompos mengandung kadar air berlebihan. Kelebihan
uap air ini telah mengisi ruang pori, sehingga menghalangi diffusi oksigen
melalui bahan‐bahan kompos tersebut. Inilah yang membuat keadaan menjadi
anaerobik.
Pencampuran bahan baku dengan potongan 4 – 10 cm, seperti bahan
jerami, potongan kayu, kertas karton, serbuk gergaji dll dapat mengurangi
permasalahan ini. Apabila melakukan pembuatan kompos dengan memakai sistim
aerated static pile ataupun sistim in Vessel, berhati‐hatilah dalam menambahkan udara (oksigen), jangan sampai
menyebabkan kompos menjadi kering . Indikasinya adalah perhatikan temperatur,
jika temperatur menurun lebih cepat dari biasanya, maka ada kemungkinan kompos
terlalu kering.
Pengamatan Odor / Aroma
Jika proses pembuatan kompos berjalan
dengan normal, maka tidak boleh menghasilkan bau yang menyengat (bau busuk).
Walaupun demikian dalam pembuatan kompos tidak akan terbebas sama sekali dari
adanya bau. Dengan memanfaatkan indra penciuman, dapat dijadikan sebagai alat untuk
mendeteksi permasalahan yang terjadi selama proses pembuatan kompos. Sebagai
gambaran, jika tercium bau amonia, patut diduga campuran bahan kompos kelebihan
bahan yang mengandung unsur Nitrogen (ratio C/N terlalu rendah). Untuk
mengatasinya tambahkanlah bahan‐bahan yang mengandung C/N
tinggi, misalnya berupa:
1.
Potongan jerami
2.
Potongan kayu
3.
Serbuk gergaji
4.
Potongan kertas koran atau
karton
Jika tercium bau busuk, mungkin campuran kompos terlalu banyak
mengandung air. Apabila ini terjadi, lakukanlah pembalikan (pada sistim
windrow), tambahkan oksigen pada sistim Aerated Static Pile atau In Vessel.
Pengamatan Ph
Pengamatan pH kompos berfungsi sebagai
indikator proses dekomposisi kompos. Mikroba kompos akan bekerja pada keadaan
pH netral sampai sedikit masam, dengan kisaran pH antara 5.5 sampai 8. Selama
tahap awal proses dekomposisi, akan terbentuk asam‐asam organik. Kondisi asam ini akan mendorong pertumbuhan jamur
dan akan mendekomposisi lignin dan selulosa pada bahan kompos. Selama proses
pembuatan kompos berlangsung, asam‐asam organik tersebut
akan menjadi netral dan kompos menjadi matang biasanya mencapai pH antara 6 –
8. Jika kondisi anaerobik berkembang selama proses pembuatan kompos, asam‐asam organik akan menumpuk.
Pemberian udara atau pembalikan kompos
akan mengurangi kemasaman ini. Penambahan kapur dalam proses pembuatan kompos
tidak dianjurkan. Pemberian kapur (Kalsium Karbonat, CaCo3) akan menyebabkan
terjadinya kehilangan nitrogen yang berubah menjadi gas Amoniak. Kehilangan ini
tidak saja menyebabkan terjadinya bau, tetapi juga menimbulkan kerugian karena
menyebabkan terjadinya kehilangan unsur hara yang penting, yaitu nitrogen.
Nitrogen sudah barang tentu lebih baik disimpan dalam kompos untuk kemudian
nanti digunakan oleh tanaman untuk pertumbuhannya.
- Ciri‐Ciri Kompos Jadi
Setelah semua proses pembuatan kompos dilakukan, mulai dari
pemilihan bahan, pengadaan bahan, perlakuan bahan, penyusunan bahan,
pencampuran bahan, pengamatan proses, pembalikan kompos sampai dengan jadi
kompos. Selanjutnya adalah pengetesan sederhana terhadap kompos.
1.
Apakah kompos yang dibuat
tersebut sudah jadi dengan baik ?
2.
Apa saja ciri‐cirinya ?
Ciri‐ciri kompos sudah jadi dan baik adalah:
- Warna kompos biasanya coklat kehitaman
- Kompos yang baik tidak mengeluarkan aroma yang menyengat, tetapi mengeluarkan aroma lemah seperti bau tanah atau bau humus hutan Apabila dipegang dan dikepal, kompos akan menggumpal. Apabila ditekan dengan lunak, gumpalan kompos akan hancur dengan mudah.
- Penyimpanan Kompos
Kompos apabila sudah jadi, sebaiknya
disimpan sampai 1 atau 2 bulan untuk mengurangi unsur beracun, walaupun
penyimpanan ini akan menyebabkan terjadinya sedikit kehilangan unsur yang
diperlukan seperti Nitrogen. Tetapi secara umum kompos yang disimpan dahulu
lebih baik. Penyimpanan kompos harus dilakukan dengan hati‐hati, terutama yang harus dijaga adalah:
1.
Jaga kelembabannya jangan
sampai < 20 persen dari bobotnya
2. Jaga jangan sampai kena sinar matahari lansung (ditutup)
3.
Jaga jangan sampai kena air
/ hujan secara langsung (ditutup)
Apabila akan dikemas, pilih bahan kemasan yang kedap udara dan
tidak mudah rusak. Bahan kemasan tidak tembus cahaya matahari lebih baik.
Kompos merupakan bahan yang apabila berubah, tidak dapat kembali ke keadaan
semula (Ireversible). Apabila kompos mengering, unsur hara yang terkandung
didalamnya akan ikut hilang bersama dengan air dan apabila kompos ditambahkan
air kembali maka unsur hara yang hilang tadi tidak dapat kembali lagi. Demikian
juga dengan pengaruh air hujan. Apabila kompos kehujanan, unsur hara akan larut
dan terbawa air hujan. Kemasan kompos sebaiknya bahan yang kedap adalah untuk
menghindarkan kehilangan kandungan air. Kemasan yang baik membuat Kompos mampu
bertahan sampai lebih dari 3 tahun.
- Keunggulan dan Kekurangan Kompos
Pupuk organik mempunyai sangat banyak kelebihan namun juga
memiliki kekurangan bila dibandingkan dengan pupuk buatan atau kimi
(anorganik).
Kekurangan
Kandungan unsur hara jumlahnya kecil, sehingga jumlah pupuk yang
diberikan harus relatif banyak bila dibandingkan dengan pupuk anorganik. Karena
jumlahnya banyak, menyebabkan memerlukan tambahan biaya operasional untuk
pengangkutan dan implementasinya. Dalam jangka pendek, apalagi untuk tanah‐tanah yang sudah miskin unsur hara, pemberian pupuk organik yang
membutuhkan jumlah besar sehingga menjadi beban biaya bagi petani. Sementara
itu reaksi atau respon tanaman terhadap pemberian pupuk organik tidak se‐spektakuler pemberian pupuk buatan.
Keunggulan
Pupuk organik mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur hara
makro maupun unsur hara mikro. Kondisi ini tidak dimiliki oleh pupuk buatan
(anorganik). Pupuk organik mengandung asam ‐ asam organik, antara
lain asam humic, asam fulfic, hormon dan enzym yang tidak terdapat dalam pupuk
buatan yang sangat berguna baik bagi tanaman maupun lingkungan dan
mikroorganisme.Pupuk organik mengandung makro dan mikro organisme tanah yang
mempunyai pengaruh yang sangat baik terhadap perbaikan sifat fisik tanah dan
terutama sifat biologis tanah.
1. Memperbaiki dan menjaga struktur tanah.
2.
Menjadi penyangga pH tanah.
3.
Menjadi penyangga unsur hara
anorganik yang diberikan.
4.
Membantu menjaga kelembaban
tanah
5.
Aman dipakai dalam jumlah
besar dan berlebih sekalipun
6.
Tidak merusak lingkungan.
Penanganan sampah organik memang sangat diperlukan saat ini.
BalasHapusanda benar sekali...
BalasHapus