
Penampilannya sederhana. Gaya bicaranya pun ceplas-ceplos dan
terbuka. Dengan ramah, pula ia pun menyambut kedatangan Suara Merdeka
saat berkunjung ke rumahnya yang ada di Jalan Jatidiri, Dusun Krajan RT 4
RW 2, Desa Klambu, Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan.
Di benak bapak dua anak bernama Muhammad Nur Wahid yang lahir pada 13
Mei 1978 itu, bergabung dengan relawan Sanitasi Berbasis Masyarakat
(STBM) binaan Plan CLTS Project Grobogan sebagai Fasilitator Desa
merupakan hal menarik.
”Bahkan, bisa naik pesawat dan bertemu artis Vina Panduwinata pada
acara World Toilet Day (WTD) 19 November lalu di Jakarta, bukanlah
bayangan dan mimpi saya. Banyak ilmu, pengalaman dan hal baru yang saya
dapatkan dan menginspirasi saya untuk membuat usaha pembuatan master
cetakan kloset dari fiber sekaligus klosetnya,” tuturnya.
Cerita tentang perjalanan kehidupan yang tak semulus sekarang ini pun dituturkannya dengan terbuka.
Setelah lulus MTs YPI Klambu ia tak langsung bekerja, tetapi nyantri
kepada KH Muhammad Thoyib di Pondok Pesantren At Thoyyib yang ada di
Dusun Kembaran, Desa Sidomulyo, Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang
selama delapan tahun.
Mengajar kembali dari pesantren ia pun mulai mengajar di madrasah dan menikah
dengan Luluk Arifatul Khorida, teman satu kelas saat MTs, hingga
dikaruniai dua anak, Luki Rahman Zakaria (11) dan Faza Sayyida Rahma
(5). ”Selama 10 tahun saya mengajar di MTs dan hanya digaji Rp 100
ribu,” katanya.
Dituturkan pula, meski bukan sebagai perangkat desa, Kang Wahid,
sapaan akrab Muhammad Nur Wahid, dipercaya oleh Kepala Desa Klambu
Triyanti SH untuk membantu mengurus KTP, akta kelahiran milik warga
maupun kegiatan-kegiatan desa lainnya yang tidak bisa dilakukan oleh
perangkat desa maupun kepala desa.
Bertemu dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Plan International
pun terjadi pada akhir 2009 yang saat itu tengah meluncurkan program
pengadaan sanitasi atau pembuatan jamban mandiri berbasis masyarakat.
Karena perangkat desa tidak ada yang bisa berangkat untuk pelatihan
yang digelar Plan International, ia pun dipilih untuk mewakili pelatihan
untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya sanitasi. Ia juga diajari
membuat jamban bersama para peserta yang lain.
Selesai dari pelatihan, pada 30 Juli 2011, bersama warga lainnya,
Kang Wahid pun mendirikan Paguyuban Pengusaha Sanitasi Grobogan
(Papsigro) sekaligus mulai memproduksi jamban. Awal kali membuat,
hasilnya jelek dan tidak laku di pasaran.
”Akhirnya saya memilih total untuk membuat jamban. Karena di Grobogan
masih banyak warga yang belum memiliki. Masyarakat banyak yang buang
air besar di hutan, sungai, maupun parit. Saya pun tiga bulan terus
bereksperimen hingga habis uang untuk mencari guru yang bisa mengajari
saya membuat jamban,” katanya.
Usahanya pun tidak sia-sia, empat bulan terakhir ia mulai mendapat
hasilnya. Tak hanya jamban, di bawah naungan Papsigro mereka juga
membuat paket lengkap pembuatan jamban. Program sosialisasi mewujudkan
Grobogan Bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS) terus dilakukan di
tengah kesibukannya membuat kloset.
”Kami mematok Rp 500 ribu per paketnya. Keuntungan tiap bulan bisa
mencapai Rp 2 jutaan. Itu dihitung harga jamban per unit Rp 40 ribu.
Alhamdulillah, dari hasil itu bisa membangun rumah dan membeli sepeda
motor,” ucapnya sambil menjelaskan, selama ini jamban buatannya telah
dikirim ke Rembang, Demak, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan
juga Vietnam.
Warga negara Vietnam yang berkunjung ke rumahnya pun bukan hanya
membeli. Ia pun diundang oleh Kementerian Negara Vietnam untuk melatih
warga membuat jamban 13 Januari mendatang dan ke NTT pada 3 Januari.
”Saya juga sedang mendesain jamban untuk anak-anak dan penyandang
disabilitas. Insya Allah, ke Vietnam sudah siap, nanti ditemani Pak
Suminto dari Desa Kramat, Kecamatan Penawangan dan didampingi Wakil
Bupati Pak Icek Baskoro selama tujuh hari. Pesanan berupa master
cetakan, cetakan, bis beton untuk dikirim ke Vietnam maupun Laos sudah
siap dibawa,” papar penerima Piagam Penghargaan Fasilitator Terbaik
Kabupaten Grobogan dari Plan Indonesia itu, kemarin.
Dalam menjalankan aktivitas itu, Kang Wahid juga memegang prinsip,
bahwa usahanya itu tidak takut disaingi. Bahkan, kritik pedas yang
sering didapat pun justru akan membuat bersemangat. ”Belajar ilmu
sedikitpun itu itu bekal. Sukses itu menurut saya tidak menyontek orang
lain, tapi karena ada kemauan yang keras,” tandasnya.
Lalu, apa hasil usaha kegiatan Kang Wahid? Sebanyak 140 desa dari
total 280 desa di Kabupaten Grobogan telah berstatus Desa Bebas Buang
Air Besar di Sembarang tempat (BABS). Harapan Grobogan menjadi Kabupaten
bebas BABS pada 2014 mendekati kenyataan.
”Cita-cita ini harus diwujudkan oleh masyarakat dan Pemerintah
Kabupaten Grobogan. Sebagai proyek percontohan Plan sejak 2009 mulai
dari Program Air Minum dan Penyehatan Lingkungan dengan pendekatan non
subsidi atau CLTS (community led total sanitation), keberlangsungan
hidup sehat harus dilanjutkan,” tutur Country Director Plan Indonesia,
Peter La Raus.
Sejak berjalan pada 2009, penurunan kasus diare pun cukup signifikan.
Pada 2010 angka penyakit diare mencapai 13.937 kasus. Pada 2011 turun
menjadi 8.295 kasus, sampai Mei turun lagi 2.066 kasus.
”Kesadaran masyarakat akan pentingnya sanitasi menjadi lebih baik
baik. Dulu, warga BAB di hutan yang ada di selatan desa, tetapi sekarang
sudah memiliki jamban yang sehat,” ujarnya.
Wakil Bupati Icek Baskoro menyatakan pihaknya akan serius menuntaskan
permasalahan BAB. Ia melihat, masalah kesehatan yang terjadi di
Grobogan karena buruknya lingkungan dan masalah sanitasi.
”Data Dinas Kesehatan menyebutkan hanya sebagian masyarakat yang
menggunakan jamban, jumlahnya 42,78 persen. Sementara yang tidak
mencapai 57,22 dari jumlah penduduk yang ada. Kualitas kesehatan jadi
prioritas kami dan sebagai rencana kerja pemerintah,” katanya (Suara Merdeka).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar