Program daur ulang dan manajemen sampah di Korea Selatan tidak hanya
berhasil mengurangi limbah namun juga berhasil menjadikan sampah sebagai
sumber energi.
Menurut laporan UNEP Green Economy, dalam beberapa tahun terakhir,
pemerintah Korea dengan berbagai kebijakannya, berhasil menggalakkan
program daur ulang di Negeri Ginseng itu sekaligus menciptakan ribuan
lapangan kerja baru. Hal tersebut dilakukan pemerintah demi menciptakan
masyarakat yang mampu memanfaatkan kembali sumber daya (Resource
Recirculation Society).
Kebijakan “Extended Producer Responsibility” (EPR) dari pemerintah
mewajibkan perusahaan dan importir untuk mendaur ulang sebagian dari
produk mereka.
Lima tahun setelah kebijakan EPR ini diluncurkan yaitu pada 2003,
sebanyak 6,067 juta ton sampah berhasil didaur ulang dengan manfaat
finansial mencapai lebih dari US $1,6 miliar.
Pada 2008, sebanyak 69.213 ton produk plastik berhasil didaur ulang,
membawa manfaat ekonomi sebesar US$69 juta. Selain itu, dalam masa empat
tahun penerapan EPR (2003-2006), sistem ini berhasil menciptakan 3.200
lapangan kerja baru.
Manfaat EPR terhadap lingkungan juga tak kalah besarnya. Dengan
mendaur ulang produk-produk yang ditentukan oleh EPR, Korea berhasil
mengurangi emisi karbon dioksida rata-rata 412.000 ton per tahun. Sistem
EPR juga berhasil mencegah terciptanya 23.532 ton emisi gas rumah kaca
dari pembuangan dan pembakaran sampah plastik.
Walaupun jumlah sampah di Korea terus meningkat (sejak tahun 2000),
namun jumlah sampah yang berhasil didaur ulang juga terus naik.
Contoh, pada tahun 1995, sebanyak 72.3% sampah padat dibuang di
tempat pembuangan sampah akhir (TPA) dan hanya 23,7% yang berhasil
didaur ulang. Pada tahun 2007, 57.8% sampah padat berhasil didaur ulang
dan hanya 23,6% yang dibuang. Pada tahun yang sama, sebanyak 81,1% dari
total sampah berhasil didaur ulang.
Dengan berkurangnya sampah dan tempat pembuanganya, bisnis baru
tercipta. Proyek Pemulihan Kembali Gas Dari Sampah Korea (Korea’s
Landfill Gas Recovery Project) kini menjadi sebuah proyek pengembangan
energi bersih besar dengan kapasitas energi mencapai 50 MWh dan
memroduksi 363.259 MWh pada tahun 2009.
Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Perkotaan (Metropolitan Landfill
Power Plant) telah berhasil mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 0,4
juta ton antara April dan November 2007. Proyek ini diharapkan mampu
mengurangi 7 juta ton emisi gas rumah kaca dalam jangka waktu 10 tahun
(dari April 2007 hingga April 2017).
Dalam periode yang sama, pembangkit tersebut diharapkan mampu
menghemat biaya pemerintah sebesar US$126 juta. Pembangkit ini juga
telah berhasil mengurangi impor minyak Korea sebesar 530.000 barel pada
tahun 2009 (www.sanitasi.or.id).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar